The Golden Land Dan Sebuah Zaman Yang Tengah Beralih

KBR68H – Yangon. Kota ini mulai bangun dari tidurnya yang panjang. Hari kemarin Barat – dan juga para pegiat demokrasi, menyebutnya Rangoon yang puluhan tahun dikuasai rezim militer. Tapi hari-hari ini, orang-orang sudah tak peduli lagi: Anda bisa menyebutnya Yangon, sebagaimana kita bisa dengan enteng menyebut Myanmar, sebagai kata ganti Burma yang puluhan tahun digunakan kaum oposisi, tanpa sebuah beban perlawanan lagi.

Myanmar, atau Burma, memang sudah berubah. Sejak akhir tahun lalu, rezim militer mulai membuka diri. Sebagian oposisi yang hidup di pengasingan, sudah diperbolehkan pulang kampung.  Koran dan majalah tak lagi perlu di kirim ke lembaga sensor sebelum diterbitkan. Kebebasan, meski masih dalam skala terbatas, perlahan memasuki denyut nadi masyarakat. Mereka sudah berani bicara terbuka, juga kepada orang asing. Tentara berseragam tak lagi tampak di jalanan.

Tapi Yangon tetap belum bisa menutupi jejak suramnya di masa lalu. Embargo Barat sebagai balasan atas penindasan hak asasi manusia di masa lalu, masih terasa dampaknya. Taksi-taksi tua, gedung-gedung tua, ditingkah hadirnya mobil-mobil baru – terbanyak keluaran Cina dan sebagian Jepang, juga pembanguan beberapa gedung baru, menandai sebuah zaman yang tengah beralih. Seiring dengan kebijakan terbuka yang sedang berjalan, investasi baru mulai mengalir masuk. Dari Thailand, Jepang, India, Cina. Beberapa negara Barat juga mulai melirik. Embargo puluhan tahun tampaknya berhasil memukul dan menggoyahkan pondasi ekonomi rezim yang tak mampu menyembunyikan usia tuanya. Rezim ini butuh tambahan modal besar agar negara tak terpuruk.

Begitulah, kita bisa berjalan menyusuri Yangon sembari merasakan atmosfir peralihan sebuah zaman. Di antara pagoda-pagoda yang bertebaran, di tengah lalu lintas yang cukup padat (tanpa terlihat satu pun sepeda motor, “Pemerintah melarang motor di kota Yangon,” kata seorang warga), atau sekadar melepas penat di taman-taman kota, kita mungkin bisa menangkap kegamangan yang samar: akankah esok benar-benar menjadi lebih baik?

Burung gagak hitam yang beterbangan bebas di Yangon, mungkin tahu jawabnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: